Ketika Jerman dikalahkan Mexiko para pendukungnya (beberapa saudara2ku yang kebetulan nonton bareng di Jatinangor) terlihat sangat terpukul. Tapi kekecewaan kala itu ku yakin sirna saat menyaksikan jerman bertemu Swedia, dan Jerman menang.
Pertandingan terakhir melawan Korea yang semula diyakini bakal memuluskan langkah Jerman menuju 16 besar justru membuat mereka berduka, drama Korea menjadikan Jerman meneteskan airmata. Usai pertandingan, drama masih berlanjut, terlihat wajah pemain tim Jerman yang tertunduk saat menaiki bus Hyundai yang akan memulangkan mereka dari stadion ke hotel. Esok harinya, judul berita di koran2 ; " Korea memulangkan Jerman ".
Berharap melihat Messi dan Ronaldo berjaya dipiala dunia maka saya menjagokan Argentina dan Portugal. Pada fase group menggembirakan, tapi dipertandingan 16 besar giliran aku yang kecewa. Walau kecewa tapi gak berat2 amat sih, karena kalau dinilai secara objektive kans Perancis : Argentina = 55 : 45. Sementara untuk Uruguay dan Portugal kans memang 50 :50, jadi siapa yang lebih taktis dan ngotot, kemungkinan jadi pemenang akan lebih besar. Dengan kondisi demikian, wajar saja jika 2 tim kesayanganku itu akhirnya mudik lebih cepat.
Drama Korea pasti berlanjut bagi mereka yang hatinya belum bisa move on, piala dunia dianggap sudah selesai. Sementara bagi yang berpikir ini hanya permainan dan hiburan semata, maka drama korea sudah selesai, dan piala dunia tetap menarik untuk ditonton sampai final.
Untuk menikmati perhelatan akbar seperti piala sepak bola dunia ini, maka setidaknya 5 sikap ini perlu ada dalam diri kita ;
1. Ini hanya permainan, bagi yang tidak fanatik mereka yakin bahwa menang kalah dalam kehidupan itu dipergantikan, jadi bagi mereka semua biasa biasa saja.
2. Jangan berlebihan dalam segala hal termasuk mendukung tim bola, paham dan sadar bahwa pasti ada dan banyak diantara saudara, sanak keluarga dan teman teman yang jadi pendukung tim lain. Jadi dari awal harus bersikap bijak, menjaga perasaan mereka yang berbeda pilihan lebih utama, dari sekadar memuaskan nafsu berlebih dalam mendukung tim favorit.
3. Bersikap objektif dalam menilai setiap tim yang akan berlaga, jangan terlalu membesar besarkan tim favorit, sementara pada saat yang sama sibuk mengkerdilkan kemampuan tim lain.
4. Yakinlah bahwa setiap kejadian sudah
ada catatan di lauhul
mahfudznya.
5. Saat tim jagoan
menang tidak terjebak eforia, ketika kalah tidak juga terlalu berduka.
Jika berpegang pada 5 hal diatas, maka pasti setiap pertandingan kejuaraan dunia di Rusia ini akan tetap dinanti dan menjadi hiburan menarik. Dan yang tidak kalah penting, hubungan baik persaudaraan dan pertemanan tetap terjaga.
Semoga, Brazilia atau Perancis jadi juara Piala Dunia ( tim pilihan ku sekarang), kalau kalah ???, ya nikmati saja, karena toh ini hanya sebatas hiburan.
Kejuaraan sepak bola dunia memang bukan dan tidak sama dengan arena politik, tapi dalam menyikapi perbedaan dan hasilnya tentu bukan sesuatu yang tabu untuk ditiru.
F a r h an
Pengamat Bobotoh Politik
Senin, 02 Juli 2018
Sabtu, 28 April 2018
Jika Kail Sejengkal Jangan Ukur Lautan
Menilai kemampuan seorang tokoh politik itu bukan perkara mudah, apa lagi jika akal pikiran kita kerap kali dipenuhi oleh segala macam prasangka dan angan angan, yang sarat oleh pikiran sakit dan sangat dipengaruhi oleh sikap dan pandangan politik. Sehingga yang terjadi adalah, pikiran kita hanya mau menerima sesuatu sebagai fakta jika berkesesuaian dengan dugaan atau pandangan kita sebelumnya, diluar itu tidak dianggap sebagai fakta.
Situasi seperti itulah yang mewarnai kehidupan bangsa kita akhir2 ini, seorang tokoh bisa dicap apa saja oleh lawan politiknya. Dimata pendukung Prabowo, sosok Jokowi adalah orang yang tidak memiliki kemampuan apa apa, tidak punya wibawa, planga plongo dan berbagai sebutan yang konotasinya merendahkan.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar pandangan mereka terhadap Jokowi itu sesuai fakta, atau justru tidak berdasar ? Tetapi sebelum menjawabnya, mari sejenak kita arahkan pandangan pada situasi masyarakat di tahun politik ini, barangkali dari sana dapat ditemukan fakta2 yang secara tidak langsung akan menjawab pertanyaan tadi secara objektif.
Memasuki awal tahun 2018 saya banyak menerima informasi melalui WA, tentang figur figur calon kepala daerah. Pesan dari sipengirim jelas, mengajak saya untuk menjatuhkan pilihan kepada kepala daerah dukungannya. Berbagai kelebihan dari figur calon dikemukakan, seperti pendidikan, prestasi, integritas, kapasitas, kapabilitas, ketokohan dan sebagainya. Pada intinya, mereka menunjukkan bahwa figur yang mereka dukung adalah orang hebat.
Bahwa sosok calon dikatakan simpatisannya adalah figur terbaik, sebetulnya tidak salah juga. Karena untuk menjadi calon kepala daerah itu tidak mudah, sejumlah persyaratan yang hampir tidak mungkin dipenuhi orang biasa telah mereka lalui. Jadi dapat dikatakan bahwa Pilkada itu adalah panggung pertarungan orang hebat dengan orang hebat.
Sampai disini, timbul pertanyaan dihati, bagaimana mungkin orang yang pernah dua kali jadi calon Walikota dan terpilih, dikatakan tidak memiliki kemampuan apa2. Dan bagaimana pula, orang lemah dan bodoh bisa menjadi calon Gubernur dan juga terpilih. Kalau karirnya hanya sebatas jadi Gubernur DKI, mungkin otak dikepala ini masih tetap beku. Tapi otak seketika mencair disengat kenyataan, saat mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI terpilih itu menang dalam kontestasi pemilihan president di tahun 2014.
Apa yang telah dilalui dan dicapai Jokowi sampai sejauh ini, adalah sesuatu yang hampir sulit untuk disamai oleh tokoh2 politik manapun di Republik ini. Jika kelak dimasa depan ada juga yang menyamakannya, dapat kita pastikan bahwa orang tersebut adalah sosok istimewa dengan tingkat kecerdasan diatas rata2. Akan tetapi, kalaupun masih ada orang yang tetap beranggapan bahwa President RI ke 7 itu adalah sosok biasa saja atau bahkan bego sekalipun, hal tersebut dapat dipahami karena menghilangkan sikap apriori tidaklah mudah. Sementara disisi lain, penampilan Jokowidodo sendiri memang tidak umum, jika kita bandingkan dengan kebanyakan orang2 yang memiliki sejumlah kelebihan.
Fenomena Mr. Jokowidodo dalam politik, setidaknya menunjukkan 1 hal kepada kita; Orang cerdas dan terlihat kecerdasannya itu tidak aneh, orang bodoh terlihat bodoh sangat wajar, yang bodoh terkesan pintar banyak. Yang langka adalah orang cerdas terlihat biasa bahkan banyak yang berpikir kebalikkannya.
F a r h an (fhn)
Pengamat Politikus Pandir
;
Situasi seperti itulah yang mewarnai kehidupan bangsa kita akhir2 ini, seorang tokoh bisa dicap apa saja oleh lawan politiknya. Dimata pendukung Prabowo, sosok Jokowi adalah orang yang tidak memiliki kemampuan apa apa, tidak punya wibawa, planga plongo dan berbagai sebutan yang konotasinya merendahkan.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar pandangan mereka terhadap Jokowi itu sesuai fakta, atau justru tidak berdasar ? Tetapi sebelum menjawabnya, mari sejenak kita arahkan pandangan pada situasi masyarakat di tahun politik ini, barangkali dari sana dapat ditemukan fakta2 yang secara tidak langsung akan menjawab pertanyaan tadi secara objektif.
Memasuki awal tahun 2018 saya banyak menerima informasi melalui WA, tentang figur figur calon kepala daerah. Pesan dari sipengirim jelas, mengajak saya untuk menjatuhkan pilihan kepada kepala daerah dukungannya. Berbagai kelebihan dari figur calon dikemukakan, seperti pendidikan, prestasi, integritas, kapasitas, kapabilitas, ketokohan dan sebagainya. Pada intinya, mereka menunjukkan bahwa figur yang mereka dukung adalah orang hebat.
Bahwa sosok calon dikatakan simpatisannya adalah figur terbaik, sebetulnya tidak salah juga. Karena untuk menjadi calon kepala daerah itu tidak mudah, sejumlah persyaratan yang hampir tidak mungkin dipenuhi orang biasa telah mereka lalui. Jadi dapat dikatakan bahwa Pilkada itu adalah panggung pertarungan orang hebat dengan orang hebat.
Sampai disini, timbul pertanyaan dihati, bagaimana mungkin orang yang pernah dua kali jadi calon Walikota dan terpilih, dikatakan tidak memiliki kemampuan apa2. Dan bagaimana pula, orang lemah dan bodoh bisa menjadi calon Gubernur dan juga terpilih. Kalau karirnya hanya sebatas jadi Gubernur DKI, mungkin otak dikepala ini masih tetap beku. Tapi otak seketika mencair disengat kenyataan, saat mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI terpilih itu menang dalam kontestasi pemilihan president di tahun 2014.
Apa yang telah dilalui dan dicapai Jokowi sampai sejauh ini, adalah sesuatu yang hampir sulit untuk disamai oleh tokoh2 politik manapun di Republik ini. Jika kelak dimasa depan ada juga yang menyamakannya, dapat kita pastikan bahwa orang tersebut adalah sosok istimewa dengan tingkat kecerdasan diatas rata2. Akan tetapi, kalaupun masih ada orang yang tetap beranggapan bahwa President RI ke 7 itu adalah sosok biasa saja atau bahkan bego sekalipun, hal tersebut dapat dipahami karena menghilangkan sikap apriori tidaklah mudah. Sementara disisi lain, penampilan Jokowidodo sendiri memang tidak umum, jika kita bandingkan dengan kebanyakan orang2 yang memiliki sejumlah kelebihan.
Fenomena Mr. Jokowidodo dalam politik, setidaknya menunjukkan 1 hal kepada kita; Orang cerdas dan terlihat kecerdasannya itu tidak aneh, orang bodoh terlihat bodoh sangat wajar, yang bodoh terkesan pintar banyak. Yang langka adalah orang cerdas terlihat biasa bahkan banyak yang berpikir kebalikkannya.
F a r h an (fhn)
Pengamat Politikus Pandir
;
Minggu, 22 April 2018
Indahkan Rambu Saudara Ku
Alangkah baiknya sebelum membagi berita kita cek dulu kebenarannya, biar kita tidak termasuk penyebar berita bohong.
Allah sudah memperingatinya dalam Q.S Al Hujurat 6
Jangan karena kebencian kita tidak adil, berita apa dan dari mana saja asal mendiskreditkan orang atau kelompok yang tidak sehaluan, maka kita anggap benar dan langsung kita sebar. Ingat firman Allah dalam Q.S.Al Maa idah 8.
Kalau kita berjuang demi Islam, maka rambu2nya jangan kita terabas. Jadikan Alqur'an dan hadits sebagai pedoman, dan jangan gunakan cara2 orang fasik.
Bagi orang2 fasik cara apa saja tidak masalah, yang penting tujuan tercapai.
Hanya sekadar mengingatkan, keputusan ditangan anda, wassalam.
F a r h a n
Kuncen Gunung Ciremai
Allah sudah memperingatinya dalam Q.S Al Hujurat 6
Jangan karena kebencian kita tidak adil, berita apa dan dari mana saja asal mendiskreditkan orang atau kelompok yang tidak sehaluan, maka kita anggap benar dan langsung kita sebar. Ingat firman Allah dalam Q.S.Al Maa idah 8.
Kalau kita berjuang demi Islam, maka rambu2nya jangan kita terabas. Jadikan Alqur'an dan hadits sebagai pedoman, dan jangan gunakan cara2 orang fasik.
Bagi orang2 fasik cara apa saja tidak masalah, yang penting tujuan tercapai.
Hanya sekadar mengingatkan, keputusan ditangan anda, wassalam.
F a r h a n
Kuncen Gunung Ciremai
Jumat, 20 April 2018
Hujan Dan Airmata
Awan pembawa hujan bercerita pada ku, bahwa air yang dibawanya itu sebagian adalah air mata para pemimpin yang ia kumpulkan dari seluruh negeri, mulai dari tingkat keluarga, RT/RW, desa, kecamatan sampai pada pemimpin negeri.
Pada masa lalu airmata itu mudah terkumpul, karena para pemimpinnya sering menangis. Mereka menangis jika melihat keadaan orang yang dipimpinnya masih banyak yang susah, dan pada malam hari pemimpin itu akan lebih menangis lagi karena ingat bahwa atas kepemimpinannya itu ia akan diminta pertanggung jawaban dari Sang Pencipta. Sementara keadaan sekarang tidak demikian, pemimpin negeri lebih banyak tertawa dan hampir tidak ada yang menangis. Kebanyakan mereka menangis saat kehilangan jabatan.
Mendengar cerita si awan, aku pun menyela ; " apakah air mata seperti itu tidak diambil..? " tetap diambil.., walau sebetulnya air itu tidak bagus ", jawabnya, kemudian sambil berputar putar ia melanjutkan, " kami hanya mengumpulkan tetapi tidak berhak memilih...".
Rasa ingin tahu membuat ku bertanya lagi; " kalau pemimpin jarang menangis berarti air yang kau bawa tiap musim sekarang ini tentu berkurang..", si awan menjawab, "tidak..., sama sekali tidak ", lanjutnya lagi, ; " airmata pemimpin itu tergantikan oleh air mata, keringat dan darah orang orang yang dizolimi atau dirugikan oleh pemimpinnya..", " kalau begitu artinya tidak ada masalah kan.., toh air nya terkumpul juga, walau sebab dan sumber nya berbeda..", ujarku. Si awan tidak langsung menjawab, malah ia bertanya pada ku : " bagaimana hasil panen abang dari waktu kewaktu..", spontan ku jawab, "menurun..", kemudian tanya nya lagi ; " adakah keuntungan lebih besar dari kerugian tiap kali datang musim hujan..", terhadapa pertanyaan terakhir ini aku tidak dapat menjawabnya, karena kalkulator dikepala seperti kehilangan kemampuan "ya itu lah bedanya.., hujan adalah berkah tapi bisa menjadi musibah ".
Itulah kalimat terakhir yang ku dengar dari awan, sebelum meninggalkan ku dalam kesendirian. Tidak lama kemudian, hujan pun turun begitu deras, disertai angin kencang dan badai petir. tidak sampai 1 jam , ku lihat air bah datang bergulung gulung, menerjang dan menghantam setiap rumah bahkan kampung, dalam sekejab seluruh kampung rata disapu banjir bandang.
F a r h a n
Kuncen Gunung Ciremai
Pada masa lalu airmata itu mudah terkumpul, karena para pemimpinnya sering menangis. Mereka menangis jika melihat keadaan orang yang dipimpinnya masih banyak yang susah, dan pada malam hari pemimpin itu akan lebih menangis lagi karena ingat bahwa atas kepemimpinannya itu ia akan diminta pertanggung jawaban dari Sang Pencipta. Sementara keadaan sekarang tidak demikian, pemimpin negeri lebih banyak tertawa dan hampir tidak ada yang menangis. Kebanyakan mereka menangis saat kehilangan jabatan.
Mendengar cerita si awan, aku pun menyela ; " apakah air mata seperti itu tidak diambil..? " tetap diambil.., walau sebetulnya air itu tidak bagus ", jawabnya, kemudian sambil berputar putar ia melanjutkan, " kami hanya mengumpulkan tetapi tidak berhak memilih...".
Rasa ingin tahu membuat ku bertanya lagi; " kalau pemimpin jarang menangis berarti air yang kau bawa tiap musim sekarang ini tentu berkurang..", si awan menjawab, "tidak..., sama sekali tidak ", lanjutnya lagi, ; " airmata pemimpin itu tergantikan oleh air mata, keringat dan darah orang orang yang dizolimi atau dirugikan oleh pemimpinnya..", " kalau begitu artinya tidak ada masalah kan.., toh air nya terkumpul juga, walau sebab dan sumber nya berbeda..", ujarku. Si awan tidak langsung menjawab, malah ia bertanya pada ku : " bagaimana hasil panen abang dari waktu kewaktu..", spontan ku jawab, "menurun..", kemudian tanya nya lagi ; " adakah keuntungan lebih besar dari kerugian tiap kali datang musim hujan..", terhadapa pertanyaan terakhir ini aku tidak dapat menjawabnya, karena kalkulator dikepala seperti kehilangan kemampuan "ya itu lah bedanya.., hujan adalah berkah tapi bisa menjadi musibah ".
Itulah kalimat terakhir yang ku dengar dari awan, sebelum meninggalkan ku dalam kesendirian. Tidak lama kemudian, hujan pun turun begitu deras, disertai angin kencang dan badai petir. tidak sampai 1 jam , ku lihat air bah datang bergulung gulung, menerjang dan menghantam setiap rumah bahkan kampung, dalam sekejab seluruh kampung rata disapu banjir bandang.
F a r h a n
Kuncen Gunung Ciremai
Kamis, 19 April 2018
Politisi Rabun Ayam
Seiring dengan tingginya tensi politik nasional akhir2 ini, semakin sering ku lihat wajah wajah kaku, wajah dengan sorot mata yang hanya mencari pembenaran bukan kebenaran. Secara kasatmata nampak jelas bahwa orang sudah tidak peduli apa yang diucapkan, tapi hanya mau melihat siapa yang mengucapkannya.
Ukuran benar atau salah menjadi relatif, bergantung pandangan politik orang yang bicara. Ibarat kata, apapun yang keluar dari ayam orang yang sikap politik nya searah, diyakini pasti telur. Sebaliknya, sekalipun telur tapi keluar dari ayam orang yang sikap politiknya berseberangan, pasti dianggap kotoran.
Sebagai contoh, dapat kita lihat perilaku dua tokoh Islam yang sama2 tua dan sama sama mantan ketua Muhammadiyah, hanya dukungan politik keduanya berseberangan ; Buya Syafi'ie Ma'arief mendukung Jokowidodo dan Pak Amien Rais pendukung Prabowo. Walau keduanya sering bicara asal njeplak atau asbun, tapi pasti dibenarkan dan dibela oleh mereka yang searah, namun pendapat keduanya pasti salah dalam pandangan pihak yang berseberangan.
Contoh lain, disebelah kiri ada Ade Armando dan seberangnya ada Rocky gerung yang sama2 ngajar di UI, keduanya sama2 nyleneh tapi dimata masing2 kubu keduanya sosok hebat. Terkadang timbul keinginan dan tanya dihati ; bagaimana jika yang dicelotehkan Rocky G itu justru keluar dari mulut Armando ? begitu juga sebaliknya, akankah memperoleh reaksi sengit dan pembelaan yang serupa ?
Karena politik, semua seperti sudah kehilangan akal sehat, fanatisme telah membelenggu dan melemahkan kemampuan berpikir. Bahkan orang yang ucapannya menabrak rambu agama, jika arah politiknya sama pasti mereka bela, dan berkilah bahwa itu masalah perspektif dari sudut pandang yang berbeda.
Sulit mencari referensi ilmiah untuk menganalisa sebab terjadinya gejala keram otak pada para pendukung tokoh2 politik dinegeri ini, tapi ucapan maupun tulisan mereka menggambarkan potret masyarakat terbelakang.
Walau pendidikannya tinggi, tapi belum membebaskan mereka dari kejumudan berpikir. Kenyataan itu selaras dengan perilaku politik mereka, sikap primordial pada masyarakat sederhana ternyata masih melekat didiri mereka.
Sikap kultus individu begitu kuat, membuat mereka sadar atau tidak telah merubah politik aliran menjadi politik perorangan. Semula idealisme pada arah dan tujuan organisasi, sekarang idealismenya bersumber pada perorangan atau tokoh.
Sehingga bagi mereka, tidak ada lagi kebenaran diluar apa yang menjadi tujuan tokoh panutannya. Kemandekan berpikir dan sikap kultus individu itu pula yang menghancurkan aqidah mereka. Tidak ada lagi orang berbicara ukhuwah Islamiyah, karena dihati mereka ukhuwah politik lebih utama.
Tulisan singkat ini, bukan merupakan jawaban terhadap berbagai isue politik. Tetapi setidaknya tulisan ini menjadi jawaban terhadap pertanyaan dari seorang teman ; Mengapa sebagai orang politik, saya jarang berbicara politik.
F a r h a n (fhn)
Kuncen Gunung Ciremai
Ukuran benar atau salah menjadi relatif, bergantung pandangan politik orang yang bicara. Ibarat kata, apapun yang keluar dari ayam orang yang sikap politik nya searah, diyakini pasti telur. Sebaliknya, sekalipun telur tapi keluar dari ayam orang yang sikap politiknya berseberangan, pasti dianggap kotoran.
Sebagai contoh, dapat kita lihat perilaku dua tokoh Islam yang sama2 tua dan sama sama mantan ketua Muhammadiyah, hanya dukungan politik keduanya berseberangan ; Buya Syafi'ie Ma'arief mendukung Jokowidodo dan Pak Amien Rais pendukung Prabowo. Walau keduanya sering bicara asal njeplak atau asbun, tapi pasti dibenarkan dan dibela oleh mereka yang searah, namun pendapat keduanya pasti salah dalam pandangan pihak yang berseberangan.
Contoh lain, disebelah kiri ada Ade Armando dan seberangnya ada Rocky gerung yang sama2 ngajar di UI, keduanya sama2 nyleneh tapi dimata masing2 kubu keduanya sosok hebat. Terkadang timbul keinginan dan tanya dihati ; bagaimana jika yang dicelotehkan Rocky G itu justru keluar dari mulut Armando ? begitu juga sebaliknya, akankah memperoleh reaksi sengit dan pembelaan yang serupa ?
Karena politik, semua seperti sudah kehilangan akal sehat, fanatisme telah membelenggu dan melemahkan kemampuan berpikir. Bahkan orang yang ucapannya menabrak rambu agama, jika arah politiknya sama pasti mereka bela, dan berkilah bahwa itu masalah perspektif dari sudut pandang yang berbeda.
Sulit mencari referensi ilmiah untuk menganalisa sebab terjadinya gejala keram otak pada para pendukung tokoh2 politik dinegeri ini, tapi ucapan maupun tulisan mereka menggambarkan potret masyarakat terbelakang.
Walau pendidikannya tinggi, tapi belum membebaskan mereka dari kejumudan berpikir. Kenyataan itu selaras dengan perilaku politik mereka, sikap primordial pada masyarakat sederhana ternyata masih melekat didiri mereka.
Sikap kultus individu begitu kuat, membuat mereka sadar atau tidak telah merubah politik aliran menjadi politik perorangan. Semula idealisme pada arah dan tujuan organisasi, sekarang idealismenya bersumber pada perorangan atau tokoh.
Sehingga bagi mereka, tidak ada lagi kebenaran diluar apa yang menjadi tujuan tokoh panutannya. Kemandekan berpikir dan sikap kultus individu itu pula yang menghancurkan aqidah mereka. Tidak ada lagi orang berbicara ukhuwah Islamiyah, karena dihati mereka ukhuwah politik lebih utama.
Tulisan singkat ini, bukan merupakan jawaban terhadap berbagai isue politik. Tetapi setidaknya tulisan ini menjadi jawaban terhadap pertanyaan dari seorang teman ; Mengapa sebagai orang politik, saya jarang berbicara politik.
F a r h a n (fhn)
Kuncen Gunung Ciremai
Jumat, 06 April 2018
Esensi Bisa Berujung Duka
Gimana kalau semua orang memaknai ulang tahun itu hanya dari esensinya saja, mungkin kalimat ucapan yang akan kita terima lebih kurang seperti ini ;
" Selamat ya, karena sekarang umur bapak/ibu semakin berkurang, tahun depan pasti uban dan keriput kamu semakin banyak.., semoga kamu tetap sehat walau terlihat semakin tua ".
Gubrakkk..., atau bakk bik bukk.., itu suara yang mungkin akan kita dengar di moment acara perayaan ulang tahun salah satu sahabat tua kita, gak percaya ? coba saja !
Edisi Ngeyel.
" Selamat ya, karena sekarang umur bapak/ibu semakin berkurang, tahun depan pasti uban dan keriput kamu semakin banyak.., semoga kamu tetap sehat walau terlihat semakin tua ".
Gubrakkk..., atau bakk bik bukk.., itu suara yang mungkin akan kita dengar di moment acara perayaan ulang tahun salah satu sahabat tua kita, gak percaya ? coba saja !
Edisi Ngeyel.
Kamis, 05 April 2018
Ada Hikmah Dibalik Konde
Kita tidak tau apa yang ada dipikiran bude Sukmawati saat dia membacakan puisi ciptaannya dihadapan publik, tetapi belakangan ini secara sadar dia telah meminta maaf kepada seluruh ummat Islam.
Permohonan maaf itu sendiri memperoleh berbagai tanggapan dikalangan ummat, akan tetapi patut diingat bahwa urusan hati bukan urusan kita, itu wilayah Allah. Jadi dari pada menebak hati orang yang tidak mungkin ketebak, ya kita terima saja permohonan maafnya.
Terlepas dari kesemua persoalan tersebut, sebetulnya gara2 isi puisi itu ngedadak timbul sederet tanya dihati berkaitan dengan keadaan diri dan ummat Islam pada umumnya.
Pertanyaan pertama yang berhubungan dengan diri ; Apakah selama ini kita termasuk orang2 yang mengindahkan adzan dan dengan segera memenuhi panggilan itu, atau kita termasuk orang yang mengacuhkan panggilan adzan ?
Pertanyaan kedua, berhubungan dengan keadaan ummat pada umumnya ; Apakah ummat Islam di negeri ini sudah memahami esensi ajaran Islam secara utuh ?
Jika jawaban terhadap sejumlah pertanyaan tadi ternyata tidak enak untuk didengar, maka adalah bijak jika kita mengupayakan agar kedepan jawabannya terdengar indah ditelinga, dengan kata lain kondisi keimanan kita semakin baik.
Kalau kemarin jika terdengar suara adzan kita hanya berdiam diri, maka mulai detik ini kita akan menyambut panggilan itu dengan bersegera mendatangi mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Kalau hari ini banyak wanita Islam karena ketidak tahuannya akan syariah Islam masih banyak yang memakai dan bangga dengan kondenya, maka jika kita mau mengambil hikmah dari Puisi Ibu Berkonde, dapat dipastikan kedepan wanita wanita Islam Indonesia akan malu jika terlihat berkonde dan mereka merasa bangga dengan hijabnya.
N a h r a f
Pemerhati Konde Emak Emak
Permohonan maaf itu sendiri memperoleh berbagai tanggapan dikalangan ummat, akan tetapi patut diingat bahwa urusan hati bukan urusan kita, itu wilayah Allah. Jadi dari pada menebak hati orang yang tidak mungkin ketebak, ya kita terima saja permohonan maafnya.
Terlepas dari kesemua persoalan tersebut, sebetulnya gara2 isi puisi itu ngedadak timbul sederet tanya dihati berkaitan dengan keadaan diri dan ummat Islam pada umumnya.
Pertanyaan pertama yang berhubungan dengan diri ; Apakah selama ini kita termasuk orang2 yang mengindahkan adzan dan dengan segera memenuhi panggilan itu, atau kita termasuk orang yang mengacuhkan panggilan adzan ?
Pertanyaan kedua, berhubungan dengan keadaan ummat pada umumnya ; Apakah ummat Islam di negeri ini sudah memahami esensi ajaran Islam secara utuh ?
Jika jawaban terhadap sejumlah pertanyaan tadi ternyata tidak enak untuk didengar, maka adalah bijak jika kita mengupayakan agar kedepan jawabannya terdengar indah ditelinga, dengan kata lain kondisi keimanan kita semakin baik.
Kalau kemarin jika terdengar suara adzan kita hanya berdiam diri, maka mulai detik ini kita akan menyambut panggilan itu dengan bersegera mendatangi mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Kalau hari ini banyak wanita Islam karena ketidak tahuannya akan syariah Islam masih banyak yang memakai dan bangga dengan kondenya, maka jika kita mau mengambil hikmah dari Puisi Ibu Berkonde, dapat dipastikan kedepan wanita wanita Islam Indonesia akan malu jika terlihat berkonde dan mereka merasa bangga dengan hijabnya.
N a h r a f
Pemerhati Konde Emak Emak
Selasa, 03 April 2018
Konde Vs Doger Monyet
Biar pakar komunikasi dan para penyidik tidak berbelit belit, bandingkan saja dengan sebait syair yang norak ini ;
" Aku tak tau Sukmawati yang ku tau penampilan doger monyet lebih indah dari gerak tubuh mu..".
Sebetulnya males ngebahas orang tidak berkelas seperti si Sukma yang wati itu, hanya gemes ngedenger celoteh pakar komunikasi di media audiovisual saja ku buat tulisan ini.
N a h r a f
Pemerhati Doger Monyet
" Aku tak tau Sukmawati yang ku tau penampilan doger monyet lebih indah dari gerak tubuh mu..".
Sebetulnya males ngebahas orang tidak berkelas seperti si Sukma yang wati itu, hanya gemes ngedenger celoteh pakar komunikasi di media audiovisual saja ku buat tulisan ini.
N a h r a f
Pemerhati Doger Monyet
Minggu, 01 April 2018
Cerita Dari Negeri Awan
Berikut adalah cerita lama dari negeri Awan yang sangat terkenal seantero negeri, disini Kita ambil cerita singkatnya ;
Ketika Mang Udin sedang mengemudikan mobil didaerah berbukit, mendadak dari arah depan datang sebuah truk.
Saat berpapasan supir truk membuka jendela dan berteriak dengan keras ; " babi..!", mendengar teriakan itu, Mang Udin emosi, lalu sambil membuka jendela dia memaki dengan tidak kalah kerasnya ; " Kamu sendiri yang babi..!
Baru selesai memaki, tanpa bisa dihindari dia telah menabrak gerombolan babi yang sedang menyeberang jalan. Setelah kecelakaan, baru mang Udin mengerti maksud teriakkan supir truk tadi.
Hikmah cerita : Salah menafsirkan maksud baik orang lain, bisa menyebabkan kerugian Anda.
Farhan
Farhan
Dinukil dari buku ; Kumpulan Kisah2 Penuh Hikmah
Rabu, 28 Maret 2018
Awas Jalan Medsos Itu Licin
Bukan tidak ada kerinduan untuk menyapa, jumpa dan berbagi cerita. Hanya menyadari bahwa diri ini adalah lelaki paruh baya yang rawan goda, maka menjadi wajib bagi ku menutup setiap jalan yang akan mmbuat diri tergelincir.
Media sosial adalah sarana komunikasi dan bersosialisasi, tetapi disisi lain medsos seperti facebook, twitter, WA dan sebagainya bisa menjadi jalan penghantar kita ke pintu neraka.
Menyadari hal tersebut, salah satu cara yang ku terapkan dalam bermain dimedsos, adalah dengan cara mekanisme buka tutup. Atau terkadang muncul, sekali waktu menghilang walau sesaat.
Kuncen Gunung Ciremai.
Kamis, 08 Maret 2018
Selamat Datang Renternir Online
Kepada para renternir yang terhormat,
Saat ini data sebagian pengguna online di negeri ini sudah lengkap terdaftar, nikmati pasar kami, jangan lupa ajak juga temen2 renternir mu dari luar negeri.
Tanpa perlu investasi besar, cukup sediakan aplikasi dan perangkatnya saja selanjutnya uang Tuan langsung bisa dijual.
Masalah data calon debitur itu bisa2nya tuan bermain, karena sampai saat ini pengguna seluler hanya diwajibkan meregistrasi kartu sementara Undang Undang Perlindungan Data belum ada, jadi peluang untuk mendapat data itu sangat luas.
Dengan banyaknya uang yang Tuan Renternir tabur pada anak negeri, kami berharap rakyat negeri kami sejahtera. Jadi sekali lagi kami ucapkan ; " Selamat menabur uang dan nikmati hasilnya ".
Kuncen Gunung Ciremai.
Saat ini data sebagian pengguna online di negeri ini sudah lengkap terdaftar, nikmati pasar kami, jangan lupa ajak juga temen2 renternir mu dari luar negeri.
Tanpa perlu investasi besar, cukup sediakan aplikasi dan perangkatnya saja selanjutnya uang Tuan langsung bisa dijual.
Masalah data calon debitur itu bisa2nya tuan bermain, karena sampai saat ini pengguna seluler hanya diwajibkan meregistrasi kartu sementara Undang Undang Perlindungan Data belum ada, jadi peluang untuk mendapat data itu sangat luas.
Dengan banyaknya uang yang Tuan Renternir tabur pada anak negeri, kami berharap rakyat negeri kami sejahtera. Jadi sekali lagi kami ucapkan ; " Selamat menabur uang dan nikmati hasilnya ".
Kuncen Gunung Ciremai.
Senin, 05 Maret 2018
Resep Awet Tanpa Pengawet
Awet muda.., luar biasa.., siapa sangka umur bapak segitu, kalimat itu terucap dari mereka yang baru mengenal ku.
Siapapun bisa mendapat pujian dan ucapan demikian jika orang itu mengikuti tips sederhana ini ; Saat kenalan baru menanyakan usia, maka jawablah dengan menambahkan 20 tahun lebih tua dari usia kita sebenarnya, kalau umur 50 katakan saja umur kita sudah 70 tahun.
Selamat mencoba dan temukan keajaiban dari langkah ini, dijamin anda akan senang dn banyak berhaha hihi sndiri.
Siapapun bisa mendapat pujian dan ucapan demikian jika orang itu mengikuti tips sederhana ini ; Saat kenalan baru menanyakan usia, maka jawablah dengan menambahkan 20 tahun lebih tua dari usia kita sebenarnya, kalau umur 50 katakan saja umur kita sudah 70 tahun.
Selamat mencoba dan temukan keajaiban dari langkah ini, dijamin anda akan senang dn banyak berhaha hihi sndiri.
Minggu, 04 Maret 2018
Saat Persija Juara
Sejarah perebutan kekuasaan menunjukkan bahwa lawan tangguh penguasa muncul dari ketidak sengajaan, dan yang menarik 80 % kemenangan itu pada pihak penantang, bukan yang sedang berkuasa.
Ketidak sengajaan itu sudah terjadi, hanya sekarang bergantung pada kejelian dan kearifan elite Parpol oposisi dalam membaca dan menganalisa isyarat alam.
Pengamat Pertandingan Final Piala Presiden.
Ketidak sengajaan itu sudah terjadi, hanya sekarang bergantung pada kejelian dan kearifan elite Parpol oposisi dalam membaca dan menganalisa isyarat alam.
Pengamat Pertandingan Final Piala Presiden.
Cerita Dibalik Berita
Menjadi pemberitaan adalah upaya mencari panggung, utk eksistensi dan memelihara dukungan. Maka bukan suatu kesengajaan, jika dua orang berseberangan memiliki cara yang sama dalam memasarkan dirinya agar tetap eksis.
Misalnya yang 1 mengambil judul ; Ingin Pulang, tapi kenyataan enggak pulang2. Sementara pihak diseberang sesuai karakter lebih suka kalau judulnya lebih bombamtis ; Gugat Cerai, walau sepertinya tidak cerai2 dan terakhir PK. Yang satu di Saudi, pihak diseberangnya sedang di Bui.
kesamaan cara itu dapat dipahami jika melihat pendukung keduanya, walau berbeda latar belakang tetapi memiliki karakter yg sama, sama2 fanatik buta. Mungkin tanpa atau justru mereka sadari, bhw satu sama lain saling bergantung dan saling menguatkan, eksistensi keduanya dimata para pendukung tetap terpelihara dengan baik jika lawan masih eksis.
sebagai awam walau tau ini bukan sandiwara, tapi situasi yang ditimbulkannya seperti Opera Sabun dibalut gaya Bollywood.
Pengamat Lagu Benci Tapi Rindu.
Misalnya yang 1 mengambil judul ; Ingin Pulang, tapi kenyataan enggak pulang2. Sementara pihak diseberang sesuai karakter lebih suka kalau judulnya lebih bombamtis ; Gugat Cerai, walau sepertinya tidak cerai2 dan terakhir PK. Yang satu di Saudi, pihak diseberangnya sedang di Bui.
kesamaan cara itu dapat dipahami jika melihat pendukung keduanya, walau berbeda latar belakang tetapi memiliki karakter yg sama, sama2 fanatik buta. Mungkin tanpa atau justru mereka sadari, bhw satu sama lain saling bergantung dan saling menguatkan, eksistensi keduanya dimata para pendukung tetap terpelihara dengan baik jika lawan masih eksis.
sebagai awam walau tau ini bukan sandiwara, tapi situasi yang ditimbulkannya seperti Opera Sabun dibalut gaya Bollywood.
Pengamat Lagu Benci Tapi Rindu.
Selasa, 26 Februari 2013
Kebun Larangan ( 1 )
Tersesat di tanah bertuan lelaki tua itu
Ingin dia berkuasa atas kebun terlarang
Pada hal pohon tidak rimbun dan semak belukarnya pun mengering
Tapi aroma masa lalu adalah ekstasi membius sukma
Membuka ikat demit segala syaitan dalam diri
Atau barangkali juga karena sombong bertuah balik
Masuk dalam lipatan lidah perantara ludah
Mabuk berdua dalam cengkeram rindu tak berujung
Panglima segala ilmu tertekuk dalam gelegak nafsu durjana
Kitab dunia di kepala seperti hilang berbekas
Asam garam dalam darah tidak lah berfaedah
Sekarang kau seperti ucap mu pak tua
Mata rabun ayam telinga bersumbat nanah
Ingin dia berkuasa atas kebun terlarang
Pada hal pohon tidak rimbun dan semak belukarnya pun mengering
Tapi aroma masa lalu adalah ekstasi membius sukma
Membuka ikat demit segala syaitan dalam diri
Atau barangkali juga karena sombong bertuah balik
Masuk dalam lipatan lidah perantara ludah
Mabuk berdua dalam cengkeram rindu tak berujung
Panglima segala ilmu tertekuk dalam gelegak nafsu durjana
Kitab dunia di kepala seperti hilang berbekas
Asam garam dalam darah tidak lah berfaedah
Sekarang kau seperti ucap mu pak tua
Mata rabun ayam telinga bersumbat nanah
Jumat, 08 Januari 2010
Sarjana Kebo
Untuk menyekolahkan anak sampai setingkat sarjana, kami dikampung punya hitungan antara 20 sampai 30 ekor kerbau yang akan habis terjual. Jadi harap maklum, jika masyarakat kampung kami segan dan seperti hilang kepercayaan dirinya jika bertemu seorang sarjana. Dalam bayangannya dia berhadapan dengan orang yang telah membantai 30 ekor kerbau.
Mereka mengerti kenapa sering terjadi perkelahian antara mahasiswa, mereka pun paham kenapa kebanyakan mahasiswa otaknya hanya seperti alat perekam, " maklum pengaruh kerbau.., hanya itu yang mereka ucapkan, tiap kali mendengar atau melihat pemberitaan yang menyangkut mahasiswa. Sempat juga terdengar ucapan lain ; " atau bisa juga pengaruh dari sesuatu yang lain.., sesuatu yang bukan menjadi hak nya namun ikut juga terbantai..dan yang seperti ini jauh lebih liar dan berbahaya..".
Ternyata selain punya hitungan, mereka pun memiliki kearifan dalam memandang fenomena sosial yang sedang terjadi.
Mereka mengerti kenapa sering terjadi perkelahian antara mahasiswa, mereka pun paham kenapa kebanyakan mahasiswa otaknya hanya seperti alat perekam, " maklum pengaruh kerbau.., hanya itu yang mereka ucapkan, tiap kali mendengar atau melihat pemberitaan yang menyangkut mahasiswa. Sempat juga terdengar ucapan lain ; " atau bisa juga pengaruh dari sesuatu yang lain.., sesuatu yang bukan menjadi hak nya namun ikut juga terbantai..dan yang seperti ini jauh lebih liar dan berbahaya..".
Ternyata selain punya hitungan, mereka pun memiliki kearifan dalam memandang fenomena sosial yang sedang terjadi.
Rabu, 06 Januari 2010
Terbunuhnya Bayangan Soekarno,.... (1)
Ku cari sosok Soekarno, Hatta, Natsir, Agus Salim, Roem dan tokoh nasional lainnya, ku intip setiap jendela partai politik yang ada di negeri ini, tidak ku lihat bayangan mereka. Timbul tanya di hati; ada apa ini ? negara demokrasi yang pada awalnya begitu banyak politikus tapi sekarang tak satu pun, lantas untuk apa mereka membuat dan mengesahkan begitu banyak Parpol.
Mungkin kacamata ini yang salah, apa yang ku lihat dari mereka yang aktif menjadi pengurus atau yang mewakili parpol di parlemen, adalah avonturir, karyawan dan calo politik. Sibuk mengatur posisi untuk kepentingan diri, kelompok atau mensukseskan orang yang membayar karena ada kepentingan politik, itulah yang ada dipikiran mereka.
Seperti masyarakat pada umum nya, sebagian besar dari mereka itu tadi merasa bahwa mereka adalah politikus, dan dalam pemahamannya apa yang mereka lakukan adalah dalam peran nya sebagai politikus. Padahal, apa yang ku ketahui tentang politikus itu beda, ada idealisme yang begitu kuat, dan mereka bersedia mati untuk itu. Tidak siapapun dapat mendikte dan membeli nya, apa yang disetujui atau disepakati adalah didasarkan pada pemahaman atau merupakan pilihan terbaik dari suatu kondisi, bukan atas dasar tawar menawar yang bersifat menguntungkan pribadinya.
Tidak akan ada Republik ini kalau lah para politikus waktu itu dapat dibeli, sejarah membuktikan bahwa mereka lebih memilih penjara dari pada mencederai keyakinannya. Mereka adalah orang yang kritis, cerdas, dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap berbagai persoalan masyarakatnya, memiliki keyakinan dan konsep yang jelas, dan berani mengambil resiko.
Aku sempat bertanya; kemanakah orang-orang seperti itu saat ini ? Jawabnya; "Mereka terbunuh..", mungkin semua bertanya ; "kenapa tersbunuh ? " Karena Sisi lain dari Demokrasi yang seperti saat ini berlaku adalah Kapitalisme..
Mungkin kacamata ini yang salah, apa yang ku lihat dari mereka yang aktif menjadi pengurus atau yang mewakili parpol di parlemen, adalah avonturir, karyawan dan calo politik. Sibuk mengatur posisi untuk kepentingan diri, kelompok atau mensukseskan orang yang membayar karena ada kepentingan politik, itulah yang ada dipikiran mereka.
Seperti masyarakat pada umum nya, sebagian besar dari mereka itu tadi merasa bahwa mereka adalah politikus, dan dalam pemahamannya apa yang mereka lakukan adalah dalam peran nya sebagai politikus. Padahal, apa yang ku ketahui tentang politikus itu beda, ada idealisme yang begitu kuat, dan mereka bersedia mati untuk itu. Tidak siapapun dapat mendikte dan membeli nya, apa yang disetujui atau disepakati adalah didasarkan pada pemahaman atau merupakan pilihan terbaik dari suatu kondisi, bukan atas dasar tawar menawar yang bersifat menguntungkan pribadinya.
Tidak akan ada Republik ini kalau lah para politikus waktu itu dapat dibeli, sejarah membuktikan bahwa mereka lebih memilih penjara dari pada mencederai keyakinannya. Mereka adalah orang yang kritis, cerdas, dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap berbagai persoalan masyarakatnya, memiliki keyakinan dan konsep yang jelas, dan berani mengambil resiko.
Aku sempat bertanya; kemanakah orang-orang seperti itu saat ini ? Jawabnya; "Mereka terbunuh..", mungkin semua bertanya ; "kenapa tersbunuh ? " Karena Sisi lain dari Demokrasi yang seperti saat ini berlaku adalah Kapitalisme..
Jumat, 01 Januari 2010
Cerita Lama Berakhir
Berawal dari facebook baru ku.., kau datang secara tiba2.., demikian sepenggal syair dari Arman, vocalis gigi band. Itu pula yang terjadi pada diri, kenangan lama tentu lah yang keluar saat kami bercerita.
Akhir pertemuan disodorkannya satu lembar kertas, yang tampak sudah menguning dimakan usia.., nanar mata memandang..oh ada rasa sesal dan malu dihati ini.., karena telah lalai. Tidak membuang waktu, sederet angka yang tertera dikertas usang itu ku bayar tunai.
Kreditur terbaik kala muda pun tersenyum..., sambil menutup pintu, aku pun bersenandung.." hanya itu..hanya itu yang bisa ku berikan.., selain kata maaf tentunya.
Akhir pertemuan disodorkannya satu lembar kertas, yang tampak sudah menguning dimakan usia.., nanar mata memandang..oh ada rasa sesal dan malu dihati ini.., karena telah lalai. Tidak membuang waktu, sederet angka yang tertera dikertas usang itu ku bayar tunai.
Kreditur terbaik kala muda pun tersenyum..., sambil menutup pintu, aku pun bersenandung.." hanya itu..hanya itu yang bisa ku berikan.., selain kata maaf tentunya.
Kamis, 24 Desember 2009
Di Ujung Nafas
Ketika lelah tubuh ini arungi kehidupan
bayang bayang saudara ku Izraail menari nari di pelupuk mata..
yang ku tau pasti, bukan lah tarian zappin yang dibawanya
Dalam putaran arus sakit yang tak terperi
di tengah lengguhan nafas akhir kan terbuang
Satu tanya sempat tercuat di hati yang mulai membeku..
" dengan hati seperti ini..., pikiran..kata dan perbuatan yang juga seperti ini.., dimanakah diri kan terlempar.........
bayang bayang saudara ku Izraail menari nari di pelupuk mata..
yang ku tau pasti, bukan lah tarian zappin yang dibawanya
Dalam putaran arus sakit yang tak terperi
di tengah lengguhan nafas akhir kan terbuang
Satu tanya sempat tercuat di hati yang mulai membeku..
" dengan hati seperti ini..., pikiran..kata dan perbuatan yang juga seperti ini.., dimanakah diri kan terlempar.........
Sabtu, 19 Desember 2009
Kambing Medan
Mamad tetangga ku, dua bulan lagi mau ngadakan hajat/pesta sunatan anaknya. Dia pernah mengeluh; "waduh gimana ya bang, waktu semakin dekat tapi kambing belum ada.. apa kata orang2..,. Tidak hanya kepada ku Mamad mengeluh, hampir tiap bertemu orang pasti diobrolkannya, termasuk ke si Tagor, Orang yang ada kekurangan dari sisi pemikiran. Sempat ku dengar Tagor mengatakan; "Sudah lah tidak usah bingung, kalau kau mau..aku ada, tapi ini kambing medan "..gimana ? Mendengar itu sepontan Mamad memeluk Tagor, sambil berujar; " terimakasih bang, bagi ku yang penting kambing.. " Ya sudah.., tiga hari lagi ku antar itu kambing.
Tagor menepati janji, dia datang sesuai waktu. Ketika itu aku sedang di sawah, walau tidak begitu jelas ku lihat tagor berjalan ke rumah Mamad sambil menyeret sesuatu. Segera ku sudahi pekerjaan di sawah, aku pun mendatangi rumah si Mamad.
Diluar dugaan, rumah tampak sepi dan pintunya tertutup, " Assalamuallaikumm.., salam ku. Tidak lama, terdengar jawaban disertai terbukanya pintu, ku lihat Mamad tampak lemas. Ada apa lagi..pikirku. Akhirnya aku pun bicara; " tadi ku lihat Tagor kesini.., Dia hanya mengangguk, "gimana urusan kambing nya beres..tanya ku lagi. Sambil menunjuk arah samping rumah, dia menjawab; " Abang liat aja.. Aku pun melangkah, " Hah..., itu yang keluar dari mulut ini.., ketika terlihat seekor anjing hitam tampak terikat di bawah pohon mangga, disamping rumah Mamad.
Karena tau apa yang terjadi.., aku tidak ingin ber-lama2 apa lagi membahasnya, aku segera pamit pulang.
Sepanjang jalan ku bergumam; " ohh kambing medan.., kenapa wujud mu beda dengan kambing biasanya..
Tagor menepati janji, dia datang sesuai waktu. Ketika itu aku sedang di sawah, walau tidak begitu jelas ku lihat tagor berjalan ke rumah Mamad sambil menyeret sesuatu. Segera ku sudahi pekerjaan di sawah, aku pun mendatangi rumah si Mamad.
Diluar dugaan, rumah tampak sepi dan pintunya tertutup, " Assalamuallaikumm.., salam ku. Tidak lama, terdengar jawaban disertai terbukanya pintu, ku lihat Mamad tampak lemas. Ada apa lagi..pikirku. Akhirnya aku pun bicara; " tadi ku lihat Tagor kesini.., Dia hanya mengangguk, "gimana urusan kambing nya beres..tanya ku lagi. Sambil menunjuk arah samping rumah, dia menjawab; " Abang liat aja.. Aku pun melangkah, " Hah..., itu yang keluar dari mulut ini.., ketika terlihat seekor anjing hitam tampak terikat di bawah pohon mangga, disamping rumah Mamad.
Karena tau apa yang terjadi.., aku tidak ingin ber-lama2 apa lagi membahasnya, aku segera pamit pulang.
Sepanjang jalan ku bergumam; " ohh kambing medan.., kenapa wujud mu beda dengan kambing biasanya..
Langganan:
Postingan (Atom)
