Rabu, 19 Oktober 2016

hujan dan air mata

Awan pembawa hujan bercerita pada ku, bahwa air yang dibawanya itu sebagian adalah air mata para pemimpin yang ia kumpulkan dari seluruh negeri, mulai dari tingkat keluarga, RT/RW, desa, kecamatan sampai pada pemimpin negeri. Pada masa lalu airmata itu mudah terkumpul, karena para pemimpinnya sering menangis. Mereka menangis jika melihat keadaan orang yang dipimpinnya masih banyak yang susah, dan pada malam hari pemimpin itu akan lebih menangis lagi karena ingat bahwa atas kepemimpinannya itu ia akan diminta pertanggung jawaban dari Sang Pencipta. Sementara keadaan sekarang tidak demikian, pemimpin negeri lebih banyak tertawa dan hampir tidak ada yang menangis. Kebanyakan mereka menangis saat kehilangan jabatan. Mendengar cerita si awan, aku pun menyela ; " apakah air mata seperti itu tidak diambil..? " tetap diambil.., walau sebetulnya air itu tidak bagus ", jawabnya, kemudian sambil berputar putar ia melanjutkan, " kami hanya mengumpulkan tetapi tidak berhak memilih..." Rasa ingin tahu membuat ku bertanya lagi; " kalau pemimpin jarang menangis berarti air yang kau bawa tiap musim sekarang ini tentu berkurang..", si awan menjawab, "tidak..., sama sekali tidak ", lanjutnya lagi, ; " airmata pemimpin itu tergantikan oleh air mata, keringat dan darah orang orang yang dizolimi atau dirugikan oleh pemimpinnya..", " kalau begitu artinya tidak ada masalah kan.., toh air nya terkumpul juga, walau sebab dan sumber nya berbeda..", ujarku. Si awan tidak langsung menjawab, malah ia bertanya pada ku : " bagaimana hasil panen abang dari waktu kewaktu..", spontan ku jawab, "menurun..", kemudian tanya nya lagi ; " adakah keuntungan lebih besar dari kerugian tiap kali datang musim hujan..", terhadapa pertanyaan terakhir ini aku tidak dapat menjawabnya, karena kalkulator dikepala seperti kehilangan kemampuan  "ya itu lah bedanya.., hujan adalah berkah tapi bisa menjadi musibah ". Itulah kalimat terakhir yang ku dengar dari awan, sebelum meninggalkan ku dalam kesendirian. Tidak lama kemudian, hujan pun turun begitu deras, disertai angin kencang dan badai petir. tidak sampai 1 jam , ku lihat air bah datang bergulung gulung, menerjang dan menghantam setiap rumah bahkan kampung..

Selasa, 26 Februari 2013

Kebun Larangan ( 1 )

Tersesat di tanah bertuan lelaki tua itu
Ingin dia berkuasa atas kebun terlarang
Pada hal pohon tidak rimbun dan semak belukarnya pun mengering
Tapi aroma masa lalu adalah ekstasi membius sukma
Membuka ikat demit segala syaitan dalam diri
Atau barangkali juga karena sombong bertuah balik
Masuk dalam lipatan lidah perantara ludah
Mabuk berdua dalam cengkeram rindu tak berujung
Panglima segala ilmu tertekuk dalam gelegak nafsu durjana
Kitab dunia di kepala seperti hilang berbekas
Asam garam dalam darah tidak lah berfaedah
Sekarang kau seperti ucap mu pak tua
Mata rabun ayam telinga bersumbat nanah








Jumat, 08 Januari 2010

Sarjana Kebo

Untuk menyekolahkan anak sampai setingkat sarjana, kami dikampung punya hitungan antara 20 sampai 30 ekor kerbau yang akan habis terjual. Jadi harap maklum, jika masyarakat kampung kami segan dan seperti hilang kepercayaan dirinya jika bertemu seorang sarjana. Dalam bayangannya dia berhadapan dengan orang yang telah membantai 30 ekor kerbau. Mereka mengerti kenapa sering terjadi perkelahian antara mahasiswa, mereka pun paham kenapa kebanyakan mahasiswa otaknya hanya seperti alat perekam, " maklum pengaruh kerbau.., hanya itu yang mereka ucapkan, tiap kali mendengar atau melihat pemberitaan yang menyangkut mahasiswa. Sempat juga terdengar ucapan lain ; " atau bisa juga pengaruh dari sesuatu yang lain.., sesuatu yang bukan menjadi hak nya namun ikut juga terbantai..dan yang seperti ini jauh lebih liar dan berbahaya.." Ternyata selain punya hitungan, mereka pun memiliki kearifan dalam memandang fenomena sosial yang sedang terjadi.

Rabu, 06 Januari 2010

Terbunuhnya Bayangan Soekarno,.... (1)

Ku cari sosok Soekarno, Hatta, Natsir, Agus Salim, Roem dan tokoh nasional lainnya, ku intip setiap jendela partai politik yang ada di negeri ini, tidak ku lihat bayangan mereka. Timbul tanya di hati; ada apa ini ? negara demokrasi yang pada awalnya begitu banyak politikus tapi sekarang tak satu pun, lantas untuk apa mereka membuat dan mengesahkan begitu banyak Parpol. Mungkin kacamata ini yang salah, apa yang ku lihat dari mereka yang aktif menjadi pengurus atau yang mewakili parpol di parlemen, adalah avonturir, karyawan dan calo politik. Sibuk mengatur posisi untuk kepentingan diri, kelompok atau mensukseskan orang yang membayar karena ada kepentingan politik, itulah yang ada dipikiran mereka. Seperti masyarakat pada umum nya, sebagian besar dari mereka itu tadi merasa bahwa mereka adalah politikus, dan dalam pemahamannya apa yang mereka lakukan adalah dalam peran nya sebagai politikus. Padahal, apa yang ku ketahui tentang politikus itu beda, ada idealisme yang begitu kuat, dan mereka bersedia mati untuk itu. Tidak siapapun dapat mendikte dan membeli nya, apa yang disetujui atau disepakati adalah didasarkan pada pemahaman atau merupakan pilihan terbaik dari suatu kondisi, bukan atas dasar tawar menawar yang bersifat menguntungkan pribadinya. Tidak akan ada Republik ini kalau lah para politikus waktu itu dapat dibeli, sejarah membuktikan bahwa mereka lebih memilih penjara dari pada mencederai keyakinannya. Mereka adalah orang yang kritis, cerdas, dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap berbagai persoalan masyarakatnya, memiliki keyakinan dan konsep yang jelas, dan berani mengambil resiko.
Aku sempat bertanya; kemanakah orang-orang seperti itu saat ini ? Jawabnya; "Mereka terbunuh..", mungkin semua bertanya ; "kenapa tersbunuh ? " Karena Sisi lain dari Demokrasi yang seperti saat ini berlaku adalah Kapitalisme..

Jumat, 01 Januari 2010

Cerita Lama Berakhir

Berawal dari facebook baru ku.., kau datang secara tiba2.., demikian sepenggal syair dari Arman, vocalis gigi band. Itu pula yang terjadi pada diri, kenangan lama tentu lah yang keluar saat kami bercerita. Akhir pertemuan disodorkannya satu lembar kertas, yang tampak sudah menguning dimakan usia.., nanar mata memandang..oh ada rasa sesal dan malu dihati ini.., karena telah lalai. Tidak membuang waktu, sederet angka yang tertera dikertas usang itu ku bayar tunai. Kreditur terbaik kala muda pun tersenyum..., sambil menutup pintu, aku pun bersenandung.." hanya itu..hanya itu yang bisa ku berikan.., selain kata maaf tentunya.

Kamis, 24 Desember 2009

Di Ujung Nafas

Ketika lelah tubuh ini arungi kehidupan
bayang bayang saudara ku Izraail menari nari di pelupuk mata..
yang ku tau pasti, bukan lah tarian zappin yang dibawanya
dalam putaran arus sakit yang tak terperi
di tengah lengguhan nafas akhir kan terbuang
satu tanya sempat tercuat di hati yang mulai membeku..
" dengan hati seperti ini..., pikiran..kata dan perbuatan yang juga seperti ini.., dimanakah diri kan terlempar.........

Sabtu, 19 Desember 2009

Kambing Medan

Mamad tetangga ku, dua bulan lagi mau ngadakan hajat/pesta sunatan anaknya. Dia pernah mengeluh; "waduh gimana ya bang, waktu semakin dekat tapi kambing belum ada.. apa kata orang2..,. Tidak hanya kepada ku Mamad mengeluh, hampir tiap bertemu orang pasti diobrolkannya, termasuk ke si Tagor, Orang yang ada kekurangan dari sisi pemikiran. Sempat ku dengar Tagor mengatakan; "Sudah lah tidak usah bingung, kalau kau mau..aku ada, tapi ini kambing medan "..gimana ? Mendengar itu sepontan Mamad memeluk Tagor, sambil berujar; " terimakasih bang, bagi ku yang penting kambing.. " Ya sudah.., tiga hari lagi ku antar itu kambing. Togar menepati janji, dia datang sesuai waktu. Ketika itu aku sedang di sawah, walau tidak begitu jelas ku lihat tagor berjalan ke rumah Mamad sambil menyeret sesuatu. Segera ku sudahi pekerjaan di sawah, aku pun mendatangi rumah si Mamad. Diluar dugaan.. rumah tampak sepi dan pintunya tertutup, " Assalamuallaikumm..., salam ku. Tidak lama, terdengar jawaban disertai terbukanya pintu, ku lihat Mamad tampak lemas. Ada apa lagi..pikirku. Akhirnya aku pun bicara; " tadi ku lihat Tagor kesini.., Dia hanya mengangguk, "gimana urusan kambing nya beres..tanya ku lagi. Sambil menunjuk arah samping rumah, dia menjawab; " Abang liat aja.. Aku pun melangkah, " Hah..., itu yang keluar dari mulut ini.., ketika terlihat seekor anjing hitam tampak terikat di bawah pohon mangga, disamping rumah Mamad. Karena tau apa yang terjadi.., aku tidak ingin ber-lama2 apa lagi membahasnya, aku segera pamit pulang. Sepanjang jalan ku bergumam; " ohh kambing medan.., kenapa wujud mu beda dengan kambing biasanya..